Faruk dan Aprinus Salam
Judul: Hanya Inul
Penulis: Faruk dan Aprianus Salam
Jumlah Halaman: 342
Tahun terbit: 2003
Penerbit: Galang Press
Judul: Hanya Inul
Penulis: Faruk dan Aprianus Salam
Jumlah Halaman: 342
Tahun terbit: 2003
Penerbit: Galang Press
Judul: Mengebor Kemunafikan: Inul, Seks dan Kekuasaan
Penulis: FX Rudy Gunawan
Jenis Buku: Sosial
Jumlah Halaman: 151
Tahun terbit: 2003
Penerbit: Kawan Pustaka dan Galang Press
Blurb:
Tujuan saya menulis buku ini sejujurnya adalah untuk ikut numpang ngebor kemunafikan masyarakat. Namun, karena saya tidak bisa memuting-beliungkan bokong saya, apa boleh buat, saya ngebor saja dengan buku ini. Jadi, kalau ada yang menuduh saya menunggangi Inul, saya akan sangat berkeberatan karena saya memang tidak menungganginya. Saya hanya menumpanginya. Mudah-mudahan Inul sendiri tidak berkeberatan saya numpang ngebor bersamanya dengan menggunakan mata bor yang berbeda. Saya juga belum pernah bertemu Inul sampai buku ini selesai ditulis, jadi Anda bisa pastikan buku ini objektif. Buku ini tidak ditulis atas pesanan Inul atau kelompok pendukung maupun kelompok pengecamnya. Buku ini murni saya tulis atas dasar keinginan saya, tanpa ada unsur paksaan dan pihak ketiga, keempat, kelima, ataupun keenam.
Judul: Inul!
Penulis: Triyanto Triwikromo dkk
Jenis Buku: Seni dan Budaya
Jumlah Halaman: 161
Tahun terbit: 2003
Penerbit: Bentang Budaya
Blurb:
Fenomena Inul telah memaksa kita menengok kembali wajah budaya kita. Kehadirannya memicu diskusi panjang dalam bermacam bingkai: seni, etika, moral, agama, politik, dan kebudayaan. Bahkan Dr. Kebamoto, ahli fisika dari Universitas Indonesia, pun tertarik untuk menjelaskan goyang “ngebor” Inul dengan teori Chaos. Buku ini memuat artikel-artikel dalam diskusi panjang tersebut. Di sini terekam dengan baik beragam sikap: sinisme, kemarahan, keseriusan, juga kelakar.
Judul: Dangdut (Buku 1)
Penulis: Putu Wijaya
Jenis Buku: Novel
Jumlah Halaman: 332
Tahun terbit: 2017
Penerbit: DIVA Press
Sinopsis:
Hidup Nora berubah total setelah secara tak sengaja melihat Mala kencing di rerumpun bunga. Pun demikian halnya dengan Mala. Kariernya sebagai pimpinan redaksi di sebuah media massa terkemuka juga berubah drastis sejak kejadian itu. Kisah keduanya memang mirip lagu dangdut yang terkesan murahan, tetapi ternyata tak sesederhana itu. Ada lapis-lapis kejadian yang menjadikan peristiwa sepele itu menjadi teramat vital. Terdapat skenario politik dan jalur jurnalistik yang tergoyang oleh alunan ‘kecelakaan’ itu.
Lewat tetralogi ini beserta percakapan di dalamnya yang sekelas dengan dialog di drama-dramanya, Putu Wijaya kembali meneguhkan dirinya sebagai penulis papan atas Indonesia. Buku ini tak hanya menjadi capaian tersendiri bagi Putu Wijaya, tetapi juga menjadi karya penting dalam sastra Indonesia.
Judul: Dangdut Makrifat
Penulis: Mashuri
Jenis Buku: Sastra
Jumlah Halaman: 228
Tahun terbit: 2018
Penerbit: Basabasi
Sinopsis:
Dalam hal keinginan untuk terus berpuisi, saya taklid pada Octavio Paz. Menurut dia, ketika zaman modern bertampang sedemikian rupa dan puisi terpencil ke ruang-ruang tak terkenali dan sepi sendiri, puisi harus tetap dipestakan dan dirayakan, meski berupa pesta bawah tanah dan dalam kesunyian. Hal itu karena sebagaimana ungkapan saya yang sudah-sudah: saya menganggap menulis puisi adalah sebuah kebutuhan.
Seorang penulis memiliki tanggung jawab personal yang akbar. Ia sepenuhnya sadar bahwa lewat dirinya suara zaman digemakan. Karena itu, kesadaran seorang penulis bukan tanpa pijakan dan menggantung pada langit kekosongan, melainkan berpijak pada dua bahu raksasa: ruang dan waktu. Oleh karenanya, saya pun tak dapat menghindar dari rayuan semangat zaman, tempat ruang dan waktu tumbuh dan bersetubuh, yang melahirkan problematika dan jalan keluar yang khas.
Judul: Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat
Penulis: Kedung Darma Romansha
Jenis Buku: Novel
Jumlah Halaman: 414
Tahun terbit: 2017
Penerbit: Indie Book Corner
Blurb Buku:
Novel Kedung Darma Romansha ini bercerita tentang dunia prostitusi, panggung dangdut, pergaulan para pemabuk dan tukang kelahi. Adegan seks dan kata-kata kasar bertaburan. Namun uniknya, novel ini tidak terkesan vulgar. Mengapa demikian? Saya rasa hal itu terkait dengan nada penulisan dan posisi narator. Narator berada pada posisi netral: dia tidak memberi penilaian moral apapun, baik dalam arti menghakimi perilaku tertentu, maupun sebaliknya, yaitu merayakan atau membela perilaku yang berada di luar standar moralitas yang menjadi pegangan mayoritas orang Indonesia. Di samping itu, penulis menaruh perhatian pada detail-detail penggambaran suasana, juga bahasa dan gaya pergaulan lokal, yang terkesan cukup realistis dan berbasis pada riset lapangan. Dengan demikian, lingkungan dan perilaku manusia yang diceritakan sekadar hadir sebagai sesuatu yang memang eksis, dan menarik sekali-sekali dilirik, serta dimasuki lewat dunia khayal sebuah novel. Mau dihakimi, dinikmati, atau sekadar diamati, itu terserah pembaca.
—Katrin Bandel, kritikus sastra
Energi bercerita yang luar biasa. Kejujuran cara bertuturnya membuat saya merasa berada diantara para karakternya. Bentuk novel yang jarang kita temukan di antara kepungan novel-novel populer sekarang ini. Salut!
—Ifa Isfansyah, sutradara film
Roman ini menunjukkan keseriusan menjelajahi secara kritis pengalaman penulisnya di tanah tumpah darahnya sendiri. Memeriksa timbunan pengetahuan lokal dan mengartikulasikannya dengan bahasa etnografis pengalaman keagamaan dan godaan seksualitas sebuah hiburan. Yang suci dan profan, yang sakral dan banal bercampur membentuk cerita yang memikat.
—Muhidin M. Dahlan, Direktur Indonesia Boekoe dan pendiri warungarsip.co Yogyakarta
Novel ini memberikan tempat baru untuk mereka di tengah tatanan masyarakat yang berbudaya ini. Mereka lebih manusia dariku, bahkan penulisnya sekalipun, pikirku.
—Alex Abad, aktor film
Membaca novel Kedung awalnya saya berpikir kalau penulisnya adalah pemain organ tunggal. Karena Kedung menuliskannya benar-benar nyata seperti yang pernah saya lihat pada tahun-tahun tersebut. Saya seolah diajak ke masa lalu, dan saya membacanya benar-benar terbius oleh ceritanya. Hebat.
—Nunung Alvi, penyanyi dangdut Pantura Cirebon-Indramayu
Judul: Elegi Seorang Penyanyi Dangdut
Penulis: Ronierays
Jenis Buku: Novel
Jumlah Halaman: 224
Tahun terbit: 2010
Penerbit: Leutika
Sinopsis
Novel ini menjadi frame kehidupan pedangdut pinggiran yang syarat dengan problematika. Pertautan antara popularitas, keluarga, dan uang sangat kental.
Setting novel yang ada di Banyuwangi, semakin memperjelas masyarakat sekitar. Novel ini mempunyai tiga fase penceritaan, yakni, terjerumus popularitas, kembali kepada keluarga, dan menyendiri. Pada fase terakhir inilah, pembaca akan menemukan bermacam pemaknaan dari kehidupan Prisyla. Bahwasanya, memahami pendangdut tidak bisa hanya dari satu erotisme belaka.
Ibu mau ke mana? suara anak Prisyla. Dia tak peduli. Ada yang lebih penting daripada keluarga, batinnya. Popularitas telah menjerat jiwa Prisyla dan menjadikannya perempuan yang berani meninggalkan suami sekaligus ketiga anaknya.
Prisyla telah menemukan Yohan, dan dia percaya, lelaki ini akan mengantarkannya kepada panggung dangdut yang sangat megah. Namun ternyata salah, Yohan justru menjadikan Prisyla sebagai mesin pencari rupiah.
Ketika menjadi perempuan panggung, tanpa disadari, anak yang dulu ditinggalkannya sangat mengidolakan lagu-lagu Prisyla. Dengan sangat lugu, bocah tersebut beranggapan Prisyla adalah penyanyi hebat penuh pesona, tanpa sadar bahwa sesungguhnya dia adalah ibunya.
Kehidupan memang penuh lroni. Dan DD, Elegi Seorang Penyanyi Dangdut telah mengemas segala ironi tersebut menjadi karya reflektif yang sangat memikau.
Judul: Mendadak Dangdut
Penulis: Ninit Yunita
Jenis Buku: Novel
Jumlah Halaman: 182
Tahun terbit: 2006
Penerbit: Gagas Media
Sinopsis:
Siapa yang ngga kenal Petris Pontoh? Penyanyi pop terkenal, muda, berbakat, dan cerdas, tetapi juga sangatlah angkuh, bahkan cenderung menganggap orang lain bodoh. Meski banyak orang ingin menjadi seperti dirinya, tapi ternyata hidup tidak sesempurna apa yang diidamkan Petris. Kehidupan serba glamor yang selama ini dimilikinya, tiba-tiba saja hilang dalam sekejap. Petris dan kakaknya – Yulia – pun harus berurusan dengan polisi. Mereka tertangkap, kabur, dikejar-kejar, jadi buronan, …dan masuk dalam dunia lain. Dunia yang selama ini dibenci Petris. Dunia Dangdut! Yap, sebagai penyanyi pop terkenal, Petris harus pindah haluan menjadi penyanyi Dangdut demi menyelamatkan hidup mereka. Ditemani Rizal – sang pemimpin organ tunggal Senandung Citayam – Petris dan Yulia masuk pada lika-liku dunia dangdut. Apa yang terjadi kemudian dengan nasib Petris? Cintakah ia pada dunia dangdut? Berhasilkah polisi menangkap Petris dan Yulia?
Judul: Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia
Penulis: Andrew N. Weintraub
Jumlah Halaman: 302
Tahun terbit: 2012
Penerbit: PT Gramedia
Uraian:
Suatu daya yang kuat dan unik dalam kebudayaan dan masyarakat Indonesia kontemporer, dangdut adalah musik paling popular di Indonesia. Dangdut, yang namanya berasal dari bunyi khas kendang, “Dang” dan “Dut”, dilecehkan sebagai bentuk rendah budaya popular pada 1970-an, dikomersialkan pada 1980-an, dimakanai –ulang sebagai ragam musik pop nasional dan global pada 1990-an, dan terlokalisasi dalam komunitas-komunitas etnik pada era 2000-an. Dangdut: musik, identitas, dan budaya Indonesia adalah sejarah musik dan sosial genre dangdut, dalam sederet narasi yang lebih luas tentang kelas, gender, etnisitas dan bangsa di Indonesia pasca-Kemerdekaan (1945 sampai kni). Memakai pendekatan interdisipliner baru yang memadukan etnomusikologi, antropologi media dan kajian budaya, Andrew N. Weintraub menautkan berbagai properti estetik, penggunaan dan efek musik dangdut, pada kondisi sosial dan material di Indonesia modern. Buku ini memuat khazanah materi sumber musikologis yang orisinal dan baru, dalam bentuk wawancara dengan bintang-bintang dangdut; informasi dari sumber-daya jurnalistik terpendam; dan analisis mendalam tentang standar-standar dangdut, digabung dengan pembacaan-kmbali yang tajam terhadap pustaka yang telah ada.
Penulis: G.R. Lono Lastoro Simatupang
Artikel:
Di dalam buku: Pergelaran: Sebuah Mosaik Penelitian Seni-Budaya
Tahun terbit: 2013
Penerbit: Jalasutra
Artikel pertama menyoal tentang mengapa orkes Dangdut menggunakan terma Orkes Melayu hingga saat ini. Lebih lanjut, Simatupang mengartikulasikan sejarah, aktivitas, hingga logika hal tersebut terjadi. Sedangkan pada artikel kedua, Simatupang menguraikan bagaimana Dangdut memiliki teknologi pesona. Baca lebih lanjut bukunya untuk memahami dua tulisan dangdut tersebut.